WE ARE SHARE WHO WE ARE KNOW

Perang Lapland (1944-1945) dan intervensi Uni Soviet terhadap Finlandia

Share on :

Perang Lapland, merupakan salah satu peperangan yang terjadi pada era akhir Perang Dunia II tepatnya antara tahun 1944-1945. Perag tersebut merupakan peperangan antara Finlandia dan Jerman dimana Finlandia mendeklarasikan perang terhadap Jerman untuk merebut wilayah Finlandia Utara tepatnya wilayah Lapland dimana di wilayah tersebut terdapat konsentrasi pasukan Jerman. Hal yang menarik untuk dikaji adalah peperangan tersebut pecah antara dua negara yang saling bersekutu dalam Perang Dunia II tersebut dan sama seperti Italia pada tahun 1943, perang ini terjadi karena adanya intervensi pihak ketiga terhadap hubungan kedua negara.

Finlandia dan Jerman menjalin persekutuan pada tahun 1941 untuk memerangi Uni Soviet. Sejak awal, Jerman memang menganggap Finlandia cukup penting dan alasan salah satunya Jerman menginvasi Uni Soviet adalah mencegah jatuhnya negara-negara penting di sekitar Uni Soviet ke dalam lingkaran Komunis dimana negara-negara tersebut umumnya memiliki hubungan dekat dengan Jerman. Finlandia sendiri memiliki bahan tambang yang dibutuhkan oleh Jerman di wilayah utara negaranya yaitu nikel sebagaimana Rumania memiliki ladang-ladang minyak di daerah Besserbia yang mana keduanya diincar oleh Uni Soviet. Ketika aliansi antara Jerman dan Finlandia terbentuk dan Finlandia bergabung dengan Pakta Axis untuk menyerang USSR, Jerman atas izin Finlandia menempatkan konsentrasi pasukan di wilayah Lapland utara Finlandia yang terdiri atas pasukan Jager, Gibergsjager, Panzer, Infantry, SS infantry, SS-Gibergsjager, and unit-unit Luftwaffe. Pasukan Jerman diletakkan di wilayah tersebut untuk dua tujuan yaitu mengamankan tambang nikel di wilayah tersebut dan melakukan operasi militer bersama pasukan Finlandia untuk merebut wilayah strategis militer Uni Soviet di Murmanks. Murmanks sendiri memang menjadi alasan bagi USSR untuk menginvasi Finlandia dalam "Winter War" untuk memperluas tapal batas wilayah strategis militer tersebut dengan mencaplok wilayah Finlandia yang kemudian menjadi alasan bagi Finlandia untuk bergabung dengan Jerman dan menyerang negara Komunis tersebut.

Hubungan Finlandia dan Jerman pada awalnya terjalin dengan baik. Kedua negara saling membantu dalam usaha peperangan mereka di Front Timur menghadapi Uni Soviet. Namun pada tahun 1943, mulai timbul kecurigaan dari para petinggi militer Jerman di wilayah Finlandia, bahwa Finlandia memiliki kemungkinan untuk melakukan perdamaian terpisah dengan Uni Soviet seiring dengan gerak maju Tentara Merah da penyerahan Italia kepada pihak Sekutu. Belajar dari pengalaman Italia, Jerman juga mempersiapkan berbagai kemungkinan adanya pembelotan dari pihak Finlandia baik itu berupa perjanjian damai terpisah maupun pembelotan secara politik dan bergabung dengan Tentara Merah untuk menyerbu konsentrasi pasukan Jerman di Finlandia Utara. Berbagai opsi yang disiapkan oleh komando tinggi Jerman di Finlandia termasuk kemungkinan adanya bentrokan bersenjata antara pasukan Jerman dan pasukan Finlandia yang didukung oleh Uni Soviet.

Kekhawatiran komando tinggi Jerman di Finlandia memang merupakan sebuah kenyataan. Di tahun 1944, seiring dengan gerak maju Tentara Merah, ada sebuah indikasi akan terjadinya perdamaian terpisah antara Finlandia dan Uni Soviet. Ditambah lagi pemerintahan Finlandia baru saja mengalami pergantian dan pemerintahan baru ini memiliki kemungkinan besar untuk berdamai dengan Uni Soviet dan meninggalkan Perang Dunia II. Josef Stalin, pemimpin USSR melihat pergantian ini sebagai kesempatan emas untuk menundukkan Finlandia tanpa melakukan operasi militer dan sekaligus mengusir pasukan Jerman di kawasan tersebut. Stalin menjanjikan sebuah perdamaian kepada pemerintahan baru Finlandia, namun Stalin juga mengajukan syarat yaitu Finlandia harus keluar dari Pakta Axis dan mengusir konsentrasi pasukan Jerman di kawasan Lapland tertanggal paling lambat 15 September 1944. Jika pasukan Jerman tidak juga keluar dari wilayah tersebut sampai batas waktu yang ditentukan, Finlandia harus menyatakan perang terhadap Jerman dan mengusir mereka dengan paksa. Sisa-sisa pasukan Jerman yang ada akan didemiliterisasikan dan diserahkan kepada pihak Soviet sebagai tahanan perang.

Permintaan Stalin tersebut sebenarnya sangat memberatkan Finlandia. Walaupun pemerintah baru Finlandia ingin mencapai perdamaian untuk menghindari invasi, namun pihak Finlandia tidak sampai hati jika harus mengusir paksa bahkan memerangi Jerman sendiri. Finlandia masih menaruh rasa simpati yang besar terhadap Jerman dan pasukan keduabelah pihak juga saling menghargai satu sama lain karena saling berbagi dan bertempur untuk menghadapi musuh bersama mereka (USSR). Bahkan selama Perang Dunia II, pasukan Jerman di wilayah Lapland mendapatkan pelatihan tempur dari opsir-opsir Finlandia, dan hubungan mereka sangat hangat dan akrab. Pihak Finlandia, mencoba mencari solusi untuk meminta Jerman mundur dengan perlahan dari wilayah Lapland dengan bantuan pasukan Finlandia. Permintaan tersebut dikirim oleh Mentri Luar Negri Finlandia "Carl Enckell" pada tanggal 2 September 1944 kepada Duta Besar Jerman di Helsinki. Permintaan tersebut sebenarnya sudah menandai adanya tensi antara pihak Jerman dan Finlandia.

Menganggapi permintaan yang disampaikan oleh Finlandia, pihak Jerman menanggapinya dengan berbeda. Jerman memandang adanya kepentingan pula dari Uni Soviet dibalik hal tersebut. Apabila pasukan Jerman mundur dari Finlandia, akan jelas meski tanpa peperangan Finlandia akan jatuh ke dalam poros Soviet dan terutama bahan tambang di kawasan Lapland akan jatuh ke tangan Tentara Merah dan dapat dijadikan bahan produksi mesin-mesin perang Soviet untuk menyerbu Jerman sendiri. Disisi lain dari segi strategis militer, Jerman juga berharap tetap dapat mengontrol arus lalu lintas di Teluk Finlandia dan mencegahnya jatuh ke tangan Soviet sebab jika sampai Teluk Finlandia jatuh maka AL Soviet akan memiliki akses bebas untuk berlayar dan mengancam perairan Jerman. Namun komando tinggi Jerman, berusaha menghindari peperangan terbuka dengan pihak Finlandia setuju dengan permintaan Finlandia dan mulai menarik mundur pasukannya ke wilayah Norwegia dengan kawalan pasukan Finlandia. Oleh Finlandia, pasukan Jerman diizinkan untuk menanam ranjau dan menghancurkan objek-objek vital untuk menghalangi kemungkinan masuknya Tentara Merah setalah pasukan Jerman mundur dari wilayah Finlandia Utara.

Namun, Jerman memiliki rencana lain. Bagaimanapun juga Jerman tidak akan membiarkan Uni Soviet menang dengan mudah sehingga pada tanggal 15 September 1944 pasukan Jerman menyerbu kembali wilayah Finlandia tepatnya wilayah pulau Suursari. Serangan Jerman ini merupakan bagian dari rencana jauh-jauh hari ditahun 1943, sebuah opsi militer yang akan dilakukan apabila Finlandia memang merencanakan sebuah perdamaian terpisah dengan pihak Soviet. Tujuan serangan Jerman tersebut bukan untuk menghancurkan pemerintahan Finlandia dan menduduki Finlandia demi menghalangi proses perdamaian antara Finlandia dan Soviet, namun lebih kepada strategis militer untuk menguasai wilayah Teluk Finlandia dan melanjutkan blokade terhadap akses AL Soviet di kawasan perairan sekitar Teluk Finlandia. Saat melakukan serangan pun, Jerman meminta pasukan Finlandia di pulau tersebut untuk menyerah dengan harapan mampu menguasai pulau itu tanpa harus terjadi pertumpahan darah, namun Finlandia menolak dan perang akhirnya tidak terelakan dan apa yang dikenal sebagai Perang Lapland akhirnya dimulai.

Keterlibatan Uni Soviet dalam merancang skenario peperangan ini terlihat ketika Tentara Merah tiba-tiba menyerbu Pestamo yang dikuasai oleh Divisi Gunung ke 7 dari pasukan Jerman. Serangan Tentara Merah ini dibarengi dengan serangan pasukan Finlandia membatalkan usaha mobilisasi Divisi Gunung Jerman tersebut. Pasukan Jerman akhirnya terusir dan Uni Soviet akhirnya berhasil mengontrol wilayah tambang nikel tersebut. Sebelumnya, pasukan Jerman diwilayah Lapland sudah dipersiapkan untuk mundur oleh komando tinggi Jerman di kawasan Finlandia untuk mencegah bentrok antara pasukan Jerman dan pasukan Finlandia, namun rencana itu batal ketika Jerman mengetahui Uni Soviet berada dibalik peristiwa tersebut. Masuknya Uni Soviet ke dalam kancah konflik Lapland membuat Jerman harus berpikir ulang mengenai rencana penarikan mundur pasukannya dari wilayah tersebut. Keterlibatan langsung Soviet memancing konflik yang terjadi untuk semakin memanas dan membuat Jerman menggunakan strategi baru dimana Jendral Lothar Rendulic menggunakan strategi bumi hangus terhadap kawasan Lapland untuk mencegahnya jatuh dalam kondisi utuh ketangan Tentara Merah. Pasukan Jerman kemudian secara perlahan ditarik mundur dari kawasan tersebut ke arah Muonio namun terganggung oleh serangan pasukan Finlandia ke wilayah gerak mundur pasukan Jerman di Rovaniemi. Hanya saja sekalipun pasukan Finlandia melakukan serangan penuh, sebagian besar pasukan Jerman masih dapat meloloskan diri menuju ke wilayah Norwegia. Hal tersebut menimbulkan sebuah pendapat bahwa Finlandia tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan operasi militer tersebut. Pihak Soviet bahkan mencurigai, Finlandia sengaja membiarkan sebagian besar pasukan Jerman untuk mundur dan menyerang tidak pada rute yang sebenarnya. Pasukan Jerman pada akhirnya tetap saja dapat meloloskan diri ke wilayah Norwegia dan sisa-sisa pasukan Jerman terakhir berhasil ditarik mundur pada tanggal 28 April 1945.

Pada dasarnya Perang Lapland bukanlah merupakan konflik sebenarnya antara Jerman dan Finlandia. Konflik yang berbuah peperangan itu merupakan skenario yang diciptakan USSR untuk melemahkan konsentrasi pasukan Jerman di Finlandia sekaligus menguasai wilayah strategis Finlandia (Lapland dan Teluk Finlandia) tanpa mengerahkan Tentara Merah. Perang Lapland sendiri sudah terlihat campur tangan USSR yang mendikte Finlandia untuk melakukan peperangan menyeluruh terhadap Jerman seperti tuntutan Stalin agar pasukan Jerman mundur dari wilayah Lapland dan pemutusan hubungan diplomatik antara Finlandia dan Jerman sebagai syarat perdamaian. Selain itu pihak Soviet juga memaksa Finlandia untuk menghabisi pasukan Jerman secara total meskipun pihak Finlandia enggan untuk melakukannya. Keengganan tersebut lebih dikarenakan memang Finlandia tidak memiliki niat untuk memerangi Jerman sejak awal begitu pula dengan pasukan Jerman terhadap Finlandia mengingat hubungan erat antar kedua negara. Untuk memastikan Finlandia tidak melenceng dari tugasnya, Soviet bahkan mengancam akan melakukan tindakan lebih jauh terhadap Finlandia yang dapat diterjemahkan sebagai invasi Uni Soviet terhadap Finlandia. Meski demikian, pada kenyataannya kedua belah pihak yang bertempur sama sekali tidak berniat untuk saling menghabisi. Bahkan serangan pasukan Finlandia terhadap gerakan mundur pasukan Jerman di Rovaniemi justru berakhir dengan keberhasilan pasukan Jerman menarik mundur pasukannya ke wilayah Norwegia.

SOURCES:
http://media.wfyi.org/fireandice/history/lapland.htm
http://countrystudies.us/finland/21.htm

0 komentar on Perang Lapland (1944-1945) dan intervensi Uni Soviet terhadap Finlandia :

About

mein_liebe.inc. Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Translate